Berikan Sambutan, Kakanwil "Rasa Syukur, Satu Lagi Lembaga Pontren Terbentuk di Maluku Utara"

Pendidikan Pondok Pesantren (Pontren) merupakan pendidikan Islam tertua, perkembangannya terus dinamis dan bentuk terus berubah menyesuaikan perkembangan dan kebutuhan zaman.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku Utara (Kakanwil Kemenag Malut) dalam sambutan di acara Lauching dan Haflatul Imtihan Pondok Pesantren Darul Falah Ternate, Sabtu (03/04/21).

Kakanwil menyampaiakan, rasa bersyukur karena satu lagi lembaga pendidikan pondok pesantren yang diresmikan pendiriannya, berada dikaki gunung Gamalama, Bukit Bintang yakni pondok pesantren Darul Falah.

Pendirian Pontren ini diinsiasi oleh perkumpulan masyarakat walisongo berada di Kota Ternate.

"Sebagai Kakanwil saya merasa bersyukur dan menyambut dengan bahagia, rada bangga atas kehadiran pesantren Darul Falah," Kata Beliau.

Dikatakan, sejarah telah membukti eksistensi dan kontribusi pondok pesantren terhadap negara, mulai dari sebelum kemerdekaan, berjuang memerdekakan bangsa ini, hingga saat ini, kehadirannya menjadi solusi bagi bentuk dan corak pendidikan di Indonesia.

Dalam rangka peresmian ini saya mengamanahkan kepada pinpinan dan civitas akademik ponpes Darul Falah bahwa Indonesia dimasa mendatang tidak butuh kecerdasan cognitif (intelektual), aspek kepintaran, namun gersang pribadinya dan spritualnya, tambah Kakanwil.

"Indonesia bukanlah negara berdasarkan agama, namun ajaran agama sangat mempengaruhi aspek kehidupan bernegara, karena bangsa Indonesia masyarakatnya beragama," tambah beliau lagi.

Oleh sebab itu saya mengajak pimpinan ponpes dan seluruh guru agar mewujudkan tiga aspek penting dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren yang selama ini telah dikembangkan dalam dunia pendidikan pesantren.

Tiga aspek penting itu adalah kecerdesan intelektual, kecerdasan kepribadian (akhlakulkarimah) dan kecerdasan spiritual. Ketiaga kecerdasan harus setara agar terbentuk pribadi yang sempurna.

Ditambahkan, kedudukan pesantren yang tetap bisa bertahan hingga kini, dapat dilihat dari studi Hiroko Horikoshi di Jawa Barat tentang peran seorang kyai dalam perubahan sosial yang disebut dengan “entrepeneur sejati”.

Bertolak dari konsepsi mediator, keberhasilan kyai dalam memainkan perannya untuk mempertahankan keberlangsungan pesantren bergantung pada kualitas 
kharisma.

"Diakui memang, kharisma, seperti yang dijelaskan Anderson dan Oomen terletak pada pandangan masyarakat terhadap pemiliknya. Itu sebabnya, sering kali terjadi sebutan yang disandangkan kepada pribadi kharisamatik lebih," tutup Kalanwil.

Baca Juga