Kanwil Kemenag Malut Gelar Upacara HKN Pasca Libur Idul Fitri 1442 H

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara menggelar Upacara Hari Kesadaran Nasional (HKN) yang dilaksanakan di halaman kantor, Jl. KM 40, Sofifi, Senin (17/05/2021). HKN dilaksanakan setiap tanggal 17 bulan berjalan. 

Upacara kali ini dirangkaikan dengan halal bihalal syukuran hari raya Idul Fitri 1442 H, dengan tema "Memaknai Hari Kesadaran Nasional Dalam Suasana Idul Fitri 1442 H".  

Bertindak sebagai inspektur upacara adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, H. Sarbin Sehe. 

Dalam sambutannya, Kakanwil H. Sarbin Sehe mengatakan Hari Kesadaran Nasional diperingati pada tanggal 17 setiap bulan dalam bentuk upacara atau upacara bendera, kegiatan tersebut harus dimaknai sebagai pemantapan nilai pengabdian dan kecintaan kepada bangsa dan negara. 

Upacara HKN adalah wujud nyata pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang diamanahkan kepada kita semua sebagai aparatur negara, bertugas sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Secara eksplisit disebut sebagai hari kesadaran nasional, agar menyadarkan semua warga negara, sampai saat ini masih bisa hidup dengan damai karena perjuangan para pahlawan dan pendahulu, mereka telah berjasa besar. 

Dalam artian, jasa para pahlawan itu tentunya beragama, mulai dari merebut kemerdekaan, mengisi dan mempertahankan kemerdekaan,   sehingga kita rasakan dan nikmati seperti sekarang ini. Inilah makna Kesadaran Nasional sesungguhnya. 

Lebih lanjut dikatakan, Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, harus mampu memelihara kesadaran nasional, kesadaran berbangsa dan bernegara ini dengan sebaik-baiknya, sebagai wujud rasa syukur karena kemerdekaan yang kita nikmati saat ini merupakan pengorbanan dari para pendahulu kita, dimana para pendahulu kita merebut semua itu dengan mengorbankan nyawa, darah, tenaga, harta dan keluarga. 

Oleh sebab itu sebagai ASN yang diberikan amanah oleh pemerintah dan masyarakat, kita harus menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan Panca Prasetya KORPRI yang selalu dibacakan setiap upacara HKN. HKN  adalah   momentum   perubahan kearah positif, baik dari sisi sikap, mental, disiplin dan kinerja, sehingga performance Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara terpelihara dengan baik. 

Ditambahkan, halal bihalal sebagai ikhtiar yang dilakukan untuk menyambung kembali yang sebelumnya terputus. Halal bihalal, menyambung silaturahim untuk saling memaafkan satu sama lain.   Istilah halal bihalal berasal dari bahasa Arab, namun kata ini kurang populer di Zajirah Arab, dalam prakteknya tidak semarak di Indonesia.  

Halal bihalal  adalah tradisi yang khas dan hanya dijumpai pada komunitas Islam di Indonesia, sebagai buah pikiran dari ulama Indonesia, menggunakan bahasa Arab. Pencetus terminologi halal bihalal adalah KH Wahab Chabullah, tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Istilah tersebut muncul sekitar pertengahan Ramadhan pada 1948. Saat itu, Presiden Soekarno tengah dihadapkan dengan permasalahan disintegrasi bangsa yang kian memanas pasca-pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dan PKI di Madiun. 

Di tengah situasi situasi  para elit politik yang saling menyalahkan.  KH Wahab Chasbullah, yang dimintai pendapat oleh Bung Karno, kemudian menyarankan acara silaturahim di antara elit politik dengan memanfaatkan momentum Idul Fitri. KH Wahab Chasbullah kemudian menjelaskan sebuah alur pemikiran yang menjadi kunci  populernya istilah halal bihalal. 

Selanjutnya, dalam setiap momen lebaran Idul Fitri, terdapat berbagai macam tradisi keagamaan dan kearifan lokal yang selalu dilakukan umat Islam di hari Kemenangan Idul Fitri. Seperti melaksanakan ibadah shalat Id berjamaah di masjid, mushalla, lapangan, berziarah ke makam keluarga, mudik, pulang kampung halaman, hingga berkumpul bersama keluarga dan menyantap hidangan makanan lezat (open house). 

Maka lebaran menjadi momen yang selalu penuh kebahagian, kehangatan dan kegembiraan. Seusai shalat Idul Fitri biasanya saling mengunjungi dari rumah ke rumah dalam lingkungan bertetangga bahkan antara kampung, kelurahan, antara pulau, dengan mengutamakan keluarga terdekat, teman sahabat. 

Dalam lingkungan keluarga jika orang tuanya masih hidup pasti didahulukan, begitu pula dengan orang mantu, dan seterusnya kepada guru, ulama, kiyai, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta pimpinan instansi, gubernur, bupati, walikota, terlihat ramai dikunjungi masyarakat untuk bersalaman, bermaafan satu sama saling melepaskan kerinduan mereka. Selain itu, adanya  juga menjadi tradisi yang selalu melekat setiap perayaan Hari Raya Idul fitri. 

Tradisi ini biasanya berupa acara pertemuan atau perkumpulan yang digelar untuk saling bermaaf-maafan,  dalam lingkup keluarga besar, lingkup kantor, kelompok pedagang, hingga organisasi atau instansi swasta maupun pemerintah, sering mengadakan halal bihalal. 

Terakhir, Kakanwil  menyampaikan dua kali momen Idul Fitri sejak tahun 2020 hingga saat tahun 2021, lebaran Idul Fitri berlangsung ditengah krisis kesehatan yang dilanda dunia, yaitu pandemi virus corona atau covid-19, yang mengharuskan kita semua menjaga jarak dan menghindari salaman fisik satu sama lain, sekaligus membatasi kegiatan yang menghadirkan banyak orang, membatasi saling mengunjungi, sebagai upaya memutus penularan virus corona atau covid-19. 

Meskipun demikian, kita berharap tidak mengurangi hikmah dari lebaran Idul Fitri, sebab secara fisik boleh tidak saling mengunjungi, namun melalui media dan dunia maya kita bisa saling menyapa lewat vidio cool dan lainnya. 

Mengakhiri arahannya, Kakanwil berharap, seluruh ASN Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku  dapat mengambil pelajaran penting dalam dua momen hari besar keagamaan yang berlangsung secara bersamaan pada tanggal 13 Mei 2021  yaitu lebaran Idul Fitri 1442 H dan peringatan Kenaikan Isa Almasih atau Kenaikan Yesus Kristus. 

Pelajaran penting itu adalah bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat agar memperoleh prestasi terbaik dan senantiasa mengedepankan integritas dan tanggung jawab serta menjunjung tinggi etika selama menjalankan tugas pekerjaan. Saling menyapa, saling peduli dan saling peka diantara kita untuk menguatkan tugas dan pekerjaan kita masing-masing, buang jauh-jauh ego individual, sekretariatan, struktural. 

"Marilah terus saling menghargai satu sama lain, saling menutup kekurangan satu sama lain, membumikan perilaku moderasi beragama dalam lingkup tugas kita. Selamat kepada seluruh ASN yang telah berlebaran Idul Fitri mohon maaf lahir bathin", tutup Kakanwil.

Baca Juga