Sambutan Kakanwil di Hari Raya Trisuci Waisak 2566 Tahun Buddhis

Namo Buddhaya.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam sejahtera.
Shalom.
Om Swastyastu.
Salam Kebajikan. 

Sebagai umat beragama marilah kita panjatkan Puji syukur kita panjatkan  kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Tri Ratna (Buddha, Dhamma, Sangha) atas pancaran kasih dan kebijaksanaan-Nya, sehingga kita semua dapat melaksanakanPerayaan Hari Raya Trisuci Waisak 2566 Tahun Buddhis/tahun 2022. 

Bapak/Ibu/saudara/saudari umat Buddha se-Provinsi Maluku Utara yang berbahagia, Kami atas nama pemerintah mengucapkan Selamat Hari Raya Trisuci Waisak semoga berkah keyakinan dan kebijaksanaan menghiasi kehidupan kita semua. Peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2566 TB pada tahun ini yang dilaksanakan setiap tahun bukan hal sebatas acara seremonial semata namun merupakan salah satu wujud Keyakinan dan Bakti kita kepada Sakyamuni Buddha. Peringatan Hari  Raya Trisuci Waisak Tahun ini diperingati oleh umat Buddha pada hari Senin, 16 Mei 2022. Detik-detik Waisak 11.13.46 WIB/13.13.46 WIT. 

Hari Trisuci Waisak mengingatkan kembali pada tiga peristiwa suci yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu: kelahiran, pencerahan dan kemangkatan. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari yang sama, dengan tahun berbeda, yaitu hari purnama raya di bulan Waisak. Kelahiran calon Buddha 623 Sebelum Masehi, di Taman Lumbini, Kapilavatthu, Nepal. Pencerahan Sempurna tahun 588 Sebelum Masehi, di bawah Pohon Bodhi, Bodhgaya, India. Dan, Kemangkatan Buddha tahun 543 Sebelum Masehi pada usia 80 tahun di Kusinara, India. 

Bapak/Ibu/saudara/saudari Umat Buddha Provinsi Maluku Utara yang berbahagia, perayaan Hari Tri Suci Waisak tahun ini mengambil tema: Moderasi Beragama Membangun Kedamaian. Moderasi beragama sangat tepat diterapkan di tengah kehidupan dewasa ini, agar memberi kesempatan bagi umat Buddha dan umat beragama lain untuk melaksanakan agama masing-masing dengan sikap saling bertoleransi, sehingga terbangunlah kedamaian hidup antar umat beragama di Indonesia. 

Nilai Kemanusiaan dan Keseimbangan Pemahaman Moderasi beragama menjadi kebutuhan untuk menemukan persamaan dalam perbedaan dan bukan mempertajam perbedaan dengan bersikap eksklusif. Moderasi beragama menjunjung nilai kemanusiaan dan menghadirkan keseimbangan pemahaman agama di tengah masyarakat. Nilai kemanusiaan terdapat pada penerapan cinta kasih dan kasih sayang, dengan cara mengharap serta melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada 
kehidupan manusia yang bersahabat.

Kekerasan, ketakutan, penindasan, bahkan pembunuhan tidak mencerminkan penerapan cinta kasih dan kasih sayang. Sebaliknya kekerasan dapat menimbulkan konflik, ketegangan dan permusuhan sesama. Kekerasan bermula dari dorongan kebencian yang tak terkendali, memunculkan sikap ingin menguasai ataupun meniadakan yang lainya. Bukan hanya terarah kepada individu, tetapi dapat pula ditujukan pada kelompok tertentu.

Keseimbangan pemahaman agama memerlukan keluasan wawasan berpikir sehingga mampu memahami agama sesuai dengan konteks sejarah maupun perkembangan zaman. Konteks sejarah akan menghargai agama sesuai dengan tradisi dan budaya pada saat itu, sedangkan konteks perkembangan zaman akan menghargai berbagai aspek kehidupan yang dibutuhkan pada zamannya, apakah aspek politik, ekonomi, sosial, budaya bahkan sains dan teknologi yang terus berkembang. Karena itu keseimbangan menerapkan agama memerlukan landasan maknawi agama yang menjadi pedoman utama bagi umat beragama. Landasan maknawi agama diperoleh dari sejauh mana umat beragama memahami esensi pandangan pendiri agamanya yang terdapat pada teks agama. 

Moderasi beragama sebagai jalan bijak memadukan cinta kasih dan kasih sayang serta pemahanan agama lebih terbuka terhadap perkembangan kehidupan dewasa ini, sehingga moderasi beragama dapat menjauhkan sikap ekstrem bahkan pemikiran primordialisme dan intoleransi terhadap perbedaan. 

Moderasi beragama sebenarnya, telah lama menjadi aspek penting dalam membangun peradaban manusia di tanah air kita sejak dahulu kala. Pada masa Kerajaan Medang (Mataram Kuno) terdapat kehidupan beragama yang harmonis, meskipun ada perbedaan agama di tengah masyarakat. Raja Wangsa Syailendra membangun candi-candi Buddhis, sedangkan raja Wangsa Sanjaya mendirikan banyak candi Hindu. 

Candi-candi itu terletak berdampingan satu sama lain, masing-masing penganut agama beribadah dengan leluasa dan saling menghargai. Candi Buddhis terkenal, Borobudur telah ditetapkan sebagai tempat ibadah umat Buddha Indonesia dan dunia. Pernikahan penganut beda agama sudah lazim terjadi, Raja Rakai Pikatan beragama Hindu mempersunting Ratu Pramodawardhani, puteri Raja Samaratungga yang beragama Buddha. Dengan dasar kecintaan terhadap istrinya, Rakai Pikatan mendirikan Jinamandira Candi Plaosan, yang bercirikan Buddhis. 

Guru Agung Buddha mengajarkan kehidupan berimbang dengan prinsip jalan tengah atau jalan madya. Prinsip jalan tengah menghindari dua cara hidup ekstrem, yaitu: mengikuti Hasrat kesenangan indra dan mengikuti praktik penyiksaan diri. Ibarat menarik senar gitar terlalu kencang atau memasang terlalu kendur, sama-sama tidak menghasilkan suara yang indah, karena itu buatlah senar gitar sedang-sedang, supaya menimbulkan suara merdu dan dapat didengar dengan  menyenangkan. Hidup berimbang itu diujudkan dengan pengembangan  kebijaksanaan, kesusilaan (moral), dan keteguhan pikiran (meditasi) Buddhis.
Membangun Kedamaian Kedamaian hendaknya dibangun dari diri sendiri terlebih dahulu, kemudian diterapkan keluar diri. Kedamaian diri sendiri muncul karena telah berkurangnya bahkan lenyapnya kotoran pikiran seperti keserakahan, kebencian dan ketidak-bijaksanaan. Saat batin masih dikuasai oleh kotoran pikiran, maka berbagai bentuk perilaku kekerasan, ekstrem, primordialisme bahkan intoleransi akan tumbuh berkembang. 

Guru Agung Buddha berpesan bahwa para bijaksanawan terkendali perbuatan, ucapan, dan pikirannya, sesungguhnya mereka itu benar-benar telah dapat menguasai dirinya. Pada kesempatan lain Guru Agung Buddha mengatakan bijaksanawan tidak berbuat jahat demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain, demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat atau keberhasilan 
dengan cara tidak benar. Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi. 

Bapak/Ibu/saudara/saudari umat Buddha Provinsi Maluku Utara yang berbahagia, marilah kita melaksanakan moderasi beragama dengan menerapkan cinta kasih dan kasih sayang disertai kebijak-sanaan, kesusilaan (moral), dan keteguhan pikiran (meditasi), agar kotoran pikiran dapat dikurangi bahkan dilenyapkan sehingga terbangunlah kedamaian masyarakat di Indonesia. 

Satu hal yang perlu diperhatikan bagi kehidupan beragama adalah menjauhi sikap intoleransi yang merusak sendi-sendi persaudaraan antar manusia maupun bangsa. Sesuai amanat Bapak Presiden Joko Widodo pada saat ritual penyatuan tanah dan air yang dilakukan di IKN Nusantara, penyatuan tanah dan air melambangkan kerukunan, persatuan dan kesatuan tanah air, untuk tetap menjadi bangsa yang kokoh dalam persaudaraan, agar memiliki daya juang yang kuat untuk membangun peradaban baru demi kejayaan bangsa. 

Mengakhiri sambutan ini, sekali lagi saya mengharapkan semoga kita dapat memetic manfaat perayaan Hari Raya Trisuci Waisak ini, dan selamat merayakan Hari Trisuci Waisak 2566 Tahun Buddhis. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. 

Sadhu..sadhu..sadhu

Baca Juga